#1 My Childhood Sweetheart (Aku dan Bentengku) – Sunrise

UntitledAku adalah anak sulung dan satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Setelahku, ada 3 anak laki-laki yang lahir meramaikan keluargaku. Ayah dan Ibuku mendidikku dengan cara yang sama mendidik adik-adikku, jantan. Satu hal yang sangat membetuk karakterku adalah nilai harga diri yang mereka tanamkan. Mereka membuatku tumbuh menjadi sosok perempuan dengan harga diri tinggi, tetapi tidak berkepala besar, tidak merendahkan orang lain, dan tidak over-optimist.

Tahun ini umurku menginjak ke kepala 2. Tidak seperti perempuan-perempuan sebayaku yang sudah melalang buana dalam perjalanan romansa mereka, aku terlalu fokus pada diriku sendiri untuk sekedar memperhatikannya. Aku baru menyadari bahwa diriku ini berada pada tahap dimana aku harus mulai memikirkan lawan jenis ‘selayaknya’ mereka, saat kedua orang tuaku mulai menayakannya.

Bagiku, ini bukanlah hal mudah. Membuka hatiku untuk orang lain dan mempercayakannya, sama sekali tidak mudah. Aku tumbuh dengan memasang tembok-tembok besar membentengi hatiku. Membiarkan seseorang masuk ke dalamnya sama saja dengan membiarkan bentengku di rebut tanpa perlawan, kalah tanpa berjuang, dan aku tidak suka kekalahan. Memikirkannya saja, harga diriku seolah tersayat-sayat.

Aku begini, bukannya tanpa alasan. Aku pernah merasakannya sekali, hanya satu kali. Satu kali itu, ku runtuhkan pertahananku dan menyerahkan hatiku begitu saja pada seseorang. Kubuka pintu bentengku dan mempersilahkannya masuk begitu saja. Tapi kau tau apa yang terjadi? Awalnya ia memang membuatku merasa sebagai pemenang, menjadikannya raja, dan membagi singgasana. Tapi kemudian, ia menggulingkanku dan menghunuskan pedangnya tepat menghujam hatiku. Aku tidak hanya kalah, aku hancur tak berdaya. Butuh waktu yang lama untuk mengobatinya, menyusun kembali pondasiku yang lebih kuat, tanpa pintu ataupun jendela yang bisa memberikan celah bagi para penyusup untuk masuk. Aku mengurung hatiku di antara tembok-tembok tebal tanpa sedikitpun celah untuk bernafas. Tidak sama sekali.

Jadi, saat teman-temanku bertanya apakah aku pernah menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis, aku hanya akan menggelengkan kepalaku. Akan tetapi, saat mereka bertanya apakah aku pernah menyukai seseorang, aku akan menjawab, “Ya. 1 kali.”

“Tidak ada satupun yang sempurna di dunia ini”, aku mempercayai hal itu. Layaknya sebuah benteng, tidak ada benteng yang bisa di bangun tanpa bisa di runtuhkan. Jika benteng terkuat milik Konstantinopel, imperium Byzantium, saja bisa di taklukan oleh Sulthan Al-Fatih saat peperangan salib, maka bentengku pun sudah ditakdirkan kehancurannya. Hanya saja, sama seperti imperium Byzantium, aku ingin bentengku jatuh di tangan yang tepat.

Sebuah dinding tidak akan bertahan lama tanpa dirawat, hal yang sama pun terjadi pada dinding bentengku. Batu dindingku perlahan mulai luruh, menyisakan lubang-lubang kecil yang kini bisa ditembus sedikit sinar matahari, membuatku merasakan kehangatan. Mereka menggodaku untuk mengambil sebilah pisau dan memperbesar lubangnya, merasakan lebih banyak kehangatan sinar mentari. Tapi aku tidak bisa, tameng harga diriku bak rantai yang mengikatku. Mereka membuatku duduk menunggu seseorang menjebol dindingnya dan membukakan ruang yang lebih besar padaku untuk menyambut sinar hangat mentari. Tapi dalam penantianku, aku selalu merasa kedinginan saat sinar itu pergi menghilang beberapa waktu.

Teman-temanku berkata, cahaya tidak akan masuk ke jendela yang tak terbuka untuknya. Lalu bagaimana denganku yang tak berjendela? Haruskah aku merusak dindingku sendiri dan membuatnya? Aku sendiri tidak suka dengan filosofi jendela, mereka bisa  dibuka dan ditutup seenaknya, sekehendaknya. Tidak, aku tidak bisa menjadi perempuan seperti itu, yang membuka dan menutup hatinya begitu mudah, membiarkan para pesinggah untuk keluar-masuk dengan mudah. Aku tidak seperti itu.

Teman-temanku kembali bertanya, “Kalau begitu, gimana caranya kamu bisa mendapatkan pasangan?”. Jujur saja, aku juga tidak bisa menjawabnya. Tapi aku yakin dengan Firman Tuhan yang mengatakan bahwa semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan dan memiliki pasangan dari kaumnya, dan juga bahwa wanita yang baik-baik hanya diperuntukan untuk lelaki yang baik-baik saja, begitupun sebaliknya. Aku memang belum bisa memproklamirkan diriku sebagai perempuan yang baik, akan tetapi aku yakin sudah menjaga hatiku dengan baik selama ini, dan aku akan bertemu dengan lelaki yang sama kuatnya menjaga dirinya dari jendela-jendela dan pintu-pintu yang terbuka lebar, menggoda mereka untuk masuk.

Banyak orang tua berkata bahwa kau akan merasakannya saat kau melihat orang yang tepat, bahwa saat kau bertemu dengan jodohmu kau akan tau dengan sendirinya. Maka dari itu, kuberanikan diriku untuk berdiri dan mengintip keluar dari sela-sela lubang kecil di tembok benteng. Dan saat itulah aku melihat sosok lama yang ku kenal. Aku memanggilnya, mencoba menyapa, tapi ia membalas seadanya. Ya, sebisanya seseorang membalas percakapan dengan lawan bicara tak terlihat yang bersembunyi di balik tembok yang nyaris tak berlubang. Meskipun begitu, ia mampu membuatku tersenyum, ia mampu membuatku merasa hangat tanpa harus terkena sinar matahari. Suaranya mampu membuatku terbuai, hingga aku terus-menerus berfikir untuk memperlebar lubang kecil tempatku menempelkan sebelah mataku mencoba mencuri-curi pandang pada sosoknya. Tapi, aku tidak bisa memperlonggar perlindunganku. Aku masih tidak yakin untuk benar-benar memberikan kelonggaran baginya untuk dapat melepas dinding-dinding pertahananku. Bagaimana jika ia menghancurkannya seperti yang dulu pernah terjadi? Apakah aku harus melepas sedikit bata agar bisa kukenalinya sedikit lebih banyak? Tidakkah itu sama artinya dengan aku menyerahkan diri tanpa perlawanan? Bukankah aku menginginkan seseorang yang benar-benar mengalahkanku dalam perang?

“Jadi, sosok seperti apa dirimu sekarang?”aku kembali bertanya padanya, berharap aku bisa lebih mengenalinya lewat beberapa percakapan. Kurasakan hampa dalam sejenak, ia tidak menjawab. Perlahan aku beranjak mengintip kembali lewat lubang dindingku, mencari sosoknya. Ia ada disana, dalam posisinya yang sama sekali tak bergeser seinci pun sejak awal. Aku bisa melihat senyumnya yang tersungging samar dan saat itu pula aku mulai menyadari sesuatu. Ia sama seperti diriku, ia mirip denganku.

“Kau ingat namaku?”tanyanya kemudian.

Aku tersenyum, “Kau ingat namaku?”, aku balas bertanya.

“Karli Akasma Zein”ia menjawab pelan.

Aku kembali tersenyum, “Namamu, Alanzo Tearlach Reve. Aku ingat, karena Reve artinya Mimpi”

(Sunrise)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s