#1 “One-sided Love” – Sunset

970670_660041290676795_327336352_n

Aku mungkin sudah gila! Itu yang ada di otakku sesaat setelah ibu jari ku menekan tombol send pada layar telefon selularku. Apa yang sudah kulakukan? Pesan itu tidak bisa ku batalkan karena memang sudah kukirim pada seseorang beberapa detik yang lalu. Aaarrgg aku mengerang sambil mengacak-acak rambut hitamku Bagaimana bisa aku melakukannya? Ini bukan seperti diriku. Aku, tidak pernah sekalipun mengirim pesan pada seorang laki-laki, tapi kali ini? Akal sehatku telah kalah telak dengan rasaku.

Aku mulai menggigit kuku jari-jariku berharap dapat mengurangi kecemasanku. Tak sedikitpun mataku teralihkan dari telfon selular yang ku geletakkan di sebelah kakiku. Aku menekuk lututku dan ku sandarkan daguku padanya. Kenapa benda itu tidak juga bergetar? Atau dia tidak akan membalasnya?

Bodoh! Aku memang bodoh. Tidak seharusnya aku mengirim pesan itu. Mana ada lelaki yang mau membalas pesan omong kosong dari seorang wanita yang terlampau “biasa” seperti ku? Berkenalan secara langsung saja tidak berani. Jangankan berkenalan, hanya melihatnya dari kejauhan saja bisa membuat seluruh tubuhku bergetar yang akhirnya membuat lututku lemas.

‘Sampai kapan kau akan terus begini?’ Temanku pun mungkin sudah terlalu bosan melihat tingkahku yang seperti ini. Harus ku akui, hal yang paling payah yang ada dalam diriku adalah berhadapan dengan lelaki yang aku sukai. Aku bukanlah aku jika sudah berhadapan dengan “dia”. Memang, itulah kenyataannya. Teman-temanku sangat tau aku adalah orang yang berani dan cenderung “kelebihan” emosi. Kau tau apa yang kumaksud bukan? Yah, itulah aku, tapi lain ceritanya jika aku sudah berhadapan dengan “dia”. Aku bukanlah aku jika ada di hadapannya.

Sama sekali tak kusangka, telefon selularku bergetar. Segera ku raih dan segera ku baca pesan yang masuk. “Dia”. Dia membalas pesanku. Bisa kau bayangkan bukan betapa bahagianya aku? Senyum di wajahku ini mungkin terlampau maksimal. Dan jatungku? Jangan tanyakan lagi kecepatan degup jantungku.

Perlahan ku buka pesan itu dan kubaca dengan sangat hati-hati. Ku baca dengan teliti setiap rentetan huruf yang berjejer rapi membentuk kata-kata. ‘Terimakasih telah melihat penampilanku, kau suka acaranya?’ Ya, itu pesan yang ku terima. Aku berteriak girang seperti orang sakit jiwa. Dia membalasnya dan dia bertanya apa aku menyukai acaranya? Sungguh diluar dugaan. Kupikir ia hanya akan membalas dengan satu kata ‘terimakasih’.

Beberapa detik lalu, aku mengirim pesan yang sungguh ‘menjijikkan’ menurutku. Aku mengirimkan pesan yang berisi, ‘Aku tadi melihatmu. Kau yang bermain gitar berwarna hitam bukan? Penampilanmu menakjubkan.’ See? Sangat menjijikkan bukan? Dan aku merasa bodoh setelah beberapa detik mengirimkan pesan itu. Tapi sekarang? Whatever! Aku sama sekali tidak memikirkannya lagi. Yang ada di otakku sekarang adalah kalimat ‘Dia membalas pesanku!’

Semenjak malam itu, hubunganku dengannya berjalan baik. Aku mulai mengenalnya lebih jauh. Dan kau tau? Saat aku menjabat tangannya pertamakali dan menyebutkan namaku padanya, rasanya aku ingin berteriak sangat kencang saat itu juga. Aku sangat senang sampai-sampai rasanya jantungku ingin keluar dari tempatnya. Kau bisa membayangkan bukan bagaimana rasanya bisa berkenalan dengan pria yang kau sukai?

Kemajuan yang bagus. Itu yang dikatakan sahabat baikku. Ya tentu saja. Itu karena aku sudah mulai bisa berbicara dengan tenang dihadapannya. Bahkan sesekali ia memuji hasil pemikiranku. Sangat jauh ketika aku belum mengenalnya. Jangankan berbicara, bertemu saja sudah membuat lututku lemas.

Rasa itu semakin besar. Mungkin karena terus ku beri pupuk. Itulah letak kesalahanku. Seharusnya aku tidak memupuknya. Tapi apa aku salah jika berharap padanya? Tolong jangan salahkan aku jika aku berharap padanya karena ia juga memberikan harapan itu.

‘This love drive me crazy’. Aku sudah benar-benar dibuat mabuk sehingga aku benar-benar menutup mata, telinga, dan hatiku untuk orang lain. Hanya dia. Ya, hanya dia yang ada dalam hati dan pikiranku. Apapun yang kulakukan hanya akan mengingatkanku padanya. Jujur, aku bukanlah tipe wanita senang mendengarkan lagu cinta. Tapi karena “dia”, aku melakukannya. Mungkin otakku memang sudah ‘rusak’ karenanya.

                Tak terasa satu tahun sudah aku memendam rasa ini dan di sinilah titik terakhir dimana aku bisa menyimpan rasa ini. Aku hanyalah wanita. Mungkin benar, wanita memang sudah ditakdirkan untuk dipilih dan bukan memilih. Dalam hatiku membenarkan hal itu.

                Dan untuk itu, aku hanya bisa berbicara dalam hati ‘Terimakasih karena pernah mengisi hatiku’….

 

 

(Sunset)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s